Sabtu, 05 Juli 2014

MAKALAH ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TUNA LARAS DISUSUN OLEH : NURUL (A510120067) ARYANA (A510120139) DWI NOVITA SARI (A510120165) NAZIRO FITRIYANTI (A510120182) CATUR SETYO HUTOMO (A510120189) RIESDAM MAHDI M (A510120190) DHAYINTA YUNI HANDAYANI (A510120198) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013/2014 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam kemajuan ilmu pengembangan dan teknologi yang semakin pesat ternyata membawa dampak yang cukup besar terhadap kehidupan suatu bangsa termasuk di dalamnya kelangsungan hidup anak-anak dan pemuda-pemuda atau dengan kata lain generasi penerus. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga menimbulkan pengaruh pada tata kehidupan bermasyarakat, pergeseran norma-norma dan nilai-nilai disekitar kita. Bagi anak dan remaja keadaan ini sering tidak dpata diatasi sendiri, karena belum mampu mengimbangi tuntutan perkembangan zaman, sebagai manusia yang berkepribadian cenderung menutupi kelemahannya dengan berbagai kegiatan termasuk juga tindakan-tindakan yang dilarang hukum. Seorang dikatakan nakal atau tuna laras bila menunjukkan penyimpangan tingkah laku yang cukup berarti, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya serta kehidupan lain. Oleh karena itu seorang anak yang mengalami tuna laras harus mendapatkan dukungan, motivasi dan perhatian khusus dari berbagai pihak terutama dari keluarga dan lingkungan sekitar yang harus mendukung anak tersebut. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa pengertian anak tuna laras ? 2. Apa saja ciri-ciri anak tuna laras ? 3. Apa saja penggolongan anak yang tergolong tuna laras ? 4. Apa saja klasifikasi anak yang tergolong tuna laras ? 5. Bagaimana cara membina pribadi dan sosial anak tuna laras? 6. Program apa sajakah yang diberikan kepada anak yang tuna laras ? C. TUJUAN 1. Untuk mengetahui pengertian dari anak tuna laras 2. Untuk mengetahui ciri-ciri dari anak yang tergolong anak tuna laras 3. Untuk mengetahui penggolongan anak tuna laras 4. Untuk mengetahui klasifikasi apa saja ddari anak yang tergolong tuna laras 5. Untuk mengetahui bagaimana cara membina anak tuna laras 6. Untuk mengetahui program apa saja yang dapat diberikan kepada anak tuna laras BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian anak Tuna Laras Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar. Menurut T.Sutjihati Somantri, (2007 : 139) “ Anak tunalaras sering juga disebut anak tunasosial karena tingkah laku anak ini menunjukkan penentangan terhadap norma-norma sosial masyarakat yang berwujud seperti mencuri, mengganggu, dan menyakiti orang lain.” Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar. Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. B. Ciri-ciri Anak Tuna Laras Karakteristik yang dikemukakan Hallahan dan kauffman (1986) berdasarkan dimensi tingkah laku anak tuna laras adalah sebagai berikut: - Anak yang mengalami gangguan perilaku a. Berkelahi, memukul menyerang b. Pemarah c. Pembangkang d. Suka merusak e. Kurang ajar, tidak sopan f. Penentang, tidak mau bekerjasama g. Suka menggangu h. Suka ribut, pembolos i. Mudah marah, Suka pamer j. Hiperaktif, pembohong k. Iri hati, pembantah l. Ceroboh, pengacau m. Suka menyalahkan orang lain n. Mementingkan diri sendiri - Anak yang mengalami kecemasan dan menyendiri: a. Cemas b. Tegang c. Tidak punya teman d. Tertekan e. Sensitif f. Rendah diri g. Mudah frustasi h. Pendiam i. Mudah bimbang - Anak yang kurang dewasa a. Pelamun b. Kaku c. Pasif d. Mudah dipengaruhi e. Pengantuk f. Pembosan - Anak yang agresif bersosialisasi a. Mempunyai komplotan jahat b. Berbuat onar bersama komplotannya c. Membuat genk d. Suka diluar rumah sampai larut e. Bolos sekolah f. Pergi dari rumah C. Penggolongan anak tunalaras secara umum dapat ditinjau dari segi gangguan atau hambatan dan kualifikasi berat ringannya kenakalan, dengan penjelasan sbb : 1) Menurut jenis gangguan atau hambatan a. Gangguan Emosi Anak tunalaras yang mengalami hambatan atau gangguan emosi terwujud dalam tiga jenis perbuatan, yaitu: senang-sedih, lambat cepat marah, dan releks-tertekan.Secara umum emosinya menunjukkan sedih, cepat tersinggung atau marah, rasa tertekandan merasa cemas. Gangguan atau hambatan terutama tertuju pada keadaan dalam dirinya. Macam-macam gejala hambatan emosi, yaitu: • Gentar, yaitu suatu reaksi terhadap suatu ancaman yang tidak disadari, misalnya ketakutan yang kurang jelas obyeknya. • Takut, yaitu rekasi kurang senang terhadap macam benda, mahluk, keadaan atau waktu tertentu. Pada umumnya anak merasa takut terhadap hantu, monyet, tengkorak, dan sebagainya. • Gugup nervous, yaitu rasa cemas yang tampak dalam perbuatan-perbuatan aneh. Gerakan pada mulut seperti meyedot jari, gigit jari dan menjulurkan lidah. Gerakan aneh sekitar hidung, seperti mencukil hidung, mengusap-usap atau menghisutkan hidung. Gerakan sekitar jari seperti mencukil kuku, melilit-lilit tangan atau mengepalkan jari. Gerakan sekitar rambut seperti, mengusap-usap rambut, mencabuti atau mencakar rambut. Demikian pula gerakan-gerakan seperti menggosok-menggosok, mengedip-ngedip mata dan mengrinyitkan muka, dan sebagainya. • Sikap iri hati yang selalu merasa kurang senang apabila orang lain memperoleh keuntungan dan kebahagiaan. • Perusak, yaitu memperlakukan bedan-benda di sekitarnya menjadi hancur dan tidak berfungsi. • Malu, yaitu sikap yang kurang matang dalam menghadapi tuntunan kehidupan. Mereka kurang berang menghadapi kenyataan pergaulan. .Rendah diri, yaitu sering minder yang mengakibatkan tindakannya melanggar hukum karena perasaan tertekan. b. Gangguan Sosial Anak ini mengalami gangguan atau merasa kurang senang menghadapi pergaulan. Mereka tidak dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan hidup bergaul. Gejala-gejala perbuatan itu adalah seperti sikap bermusuhan, agresip, bercakap kasar, menyakiti hati orang lain, keras kepala, menentang menghina orang lain, berkelahi, merusak milik orang lain dan sebagainya. Perbuatan mereka terutama sangat mengganggu ketenteraman dan kebahagiaan orang lain. Beberapa data tentang anak tunalaras dengan gangguan sosial antara lain adalah: • Mereka datang dari keluarga pecah (broken home) atau yang sering kena marah karena kurang diterima oleh keluarganya. • Biasa dari kelas sosial rendah berdasarkan kelas-kelas sosial. • Biasa dari kelas sosial rendah berdasarkan kelas-kelas sosial yaitu, perbedaan pandangan hidup antara kehidupan sekolah dan kebiasaan pada keluarga. • Anak berkecerdasan rendah atau yang kurang dapat mengikuti kemajuan pelajaran sekolah. • Pengaruh dari kawan sekelompok yang tingkah lakunya tercela dalam masyarakat. • Dari keluarga miskin. • Dari keluarga yang kurang harmonis sehingga hubungan kasih sayang dan batin umumnya bersifat perkara. Salah satu contoh, kita sering mendengar anak delinkwensi. Sebenarnya anak delinkwensi merupakan salah satu bagian anak tunalaras dengan gangguan karena social perbuatannya menimbulkan kegocangan ketidak bahagiaan/ketidak tentraman bagi masyarakat. Perbuatannya termasuk pelanggaran hukum seperti perbuatan mencuri, menipu, menganiaya, membunuh, mengeroyok, menodong, mengisap ganja, anak kecanduan narkotika, dan sebagainya. 2) Klasifikasi berat-ringannya kenakalan Ada beberapa kriteria yang dapat dijadikan pedoman untuk menetapkan berat ringan kriteria itu adalah: a. Besar kecilnya gangguan emosi, artinya semikin tinggi memiliki perasaan negative terhadap orang lain. Makin dalam rasa negative semakin berat tingkat kenakalan anak tersebut. b. Frekwensi tindakan, artinya frekwensi tindakan semakin sering dan tidak menunjukkan penyesalan terhadap perbuatan yang kurang baik semakin berat kenakalannya. c. Berat ringannya pelanggaran/kejahatan yang dilakukan dapat diketahui dari sanksi hukum. d. Tempat/situasi kenalakan yang dilakukan artinya Anak berani berbuat kenakalan di masyarakat sudah menunjukkan berat, dibandingkan dengan apabila di rumah. e. Mudah sukarnya dipengaruhi untk bertingkah laku baik. Para pendidikan atau orang tua dapat mengetahui sejauh mana dengan segala cara memperbaiki anak. Anak “bandel” dan “keras kepala” sukar mengikuti petunjuk termasuk kelompok berat. f. Tunggal atau ganda ketunaan yang dialami. Apabila seorang anak tunalaras juga mempunyai ketunaan lain maka dia termasuk golongan berat dalam pembinaannya. Maka kriteria ini dapat menjadi pedoman pelaksanaan penetapan berat-ringan kenakalan untuk dipisah dalam pendidikannya. D. Klasifikasi Anak Tuna Laras Secara garis besar anak tuna laras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Sehubungan dengan itu, William M.C (William.M. C., 1975 ) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (Socially Malasjusted Children):  The Semi-socialize child, anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu. Misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan seperti ini datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.  Children arrested at a primitive level of socialization, anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya, berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan kearah sikap sosial yang benar dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhatian dari orang tua yang mengakibatkan perilaku anak di kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.  Children with minimum socialization capacity, anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersikap apatis dan egois. 2. Anak yang mengalami gangguan emosi (Emotionally Disturbed Children), terdiri dari:  Neurotic Behavior, anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan cemas, marah, agresif dan perasaan bersalah. Disamping itu kadang mereka melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak seperti ini biasanya dapat dibantu dengan terapi seorang. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkanoleh sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karenakesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.  Children with psychotic processes, anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan. E. Bina Pribadi dan Sosial Anak Tunalaras Pendidikan khusus adalah pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Layanan bagi peserta didik berkebutuhan khusus berkembang dari sistem yang sepenuhnya segregatif menuju sistem yang lebih integratif. Konteks ini harus mendapat perhatian, karena membawa dampak terhadap pengelolaan kurikulum. Dalam dekade terakhir juga terjadi peningkatan secara signifikan perhatian pemerintah terhadap warga negara yang karena berbagai faktor tidak dapat terjangkau oleh layanan pendidikan yang tersedia. Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang secara signifikan berada di luar rerata normal, baik dari segi fisik, inderawi, mental, sosial, dan emosi sehingga mengalami hambatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, dan karenanya memerlukan pendidikan khusus.Sebagaimana diketahui bahwa salah satu jenis anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa adalah anak yang mengalami gangguan emosi dan tingkah laku atau yang lebih lazim disebut anak tunalaras. Yang dimaksud dengan anak berkebutuhan khusus tunalaras adalah seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkahlaku serta kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungannya. Anak tersebut mempunyai kebiasaan melanggar norma-norma kesusilaan, sopan santun, dan pergaulan masyarakat. Anak tersebut biasanya juga suka melakukan kejahatan. Faktor penyebab tunalaras antara lain : a. Kondisi keluarga yang tidak harmonis (broken home) b. Kurangnya kasih sayang orang tua karena kehadirannya tidak diharapkan c. Kemampuan sosial dan ekonomi rendah d. Adanya konflik budaya yaitu adanya perbedaan pandangan antara keadaan sekolah dan kebiasaan keluarga e. Berkecerdasan rendah atau kurang dapat mengikuti tuntutan sekolah f. Adanya pengaruh negatif dari geng-geng atau kelompok-kelompok g. Adanya gangguan atau kerusakan pada otak (brain damage) h. Memiliki gangguan kejiwaan bawaan Bimbingan pribadi dan sosial adalah suatu proses pemberian bantuan kepada individu anak gangguan emosi dan sosial untuk mengatasi kesulitan-kesulitan atau masalah yang bersifat pribadi dan sosial sebagai akibat dari kekurangmampuan anak dalam penyesuaian diri dengan lingkungannya. Bimbingan bina pribadi dan sosial antara lain : 1. Membina rasa Ketuhanan dan budi pekerti Membina rasa Ketuhanan hakekatnya berbicara masalah kualitas keimanan. Cara membina rasa Ketuhanan anak gangguan emosi dan tingkah laku antara lain dimulai dengan menanamkan nilai dan norma iman, karena keimanan mengandung nilai dan norma Ketuhanan.Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi perisai dari agresi kejahatan, materi dan keputusasaan anak dalam hidup. Sifat mudah marah, emosional, agresif, merusak dan mengganggu orang lain disebabkan karena lemahnya kadar keimanan seseorang. Sehingga ia tidak ada rasa takut atas resiko kerugian yang ditimbulkan dari perbuatannya. Caranya : a. Tanamkan pengertian melalui contoh-contoh kongrit sederhana bahwa perbuatan melanggar norma agama membuahkan dosa dan akan mendapatkan siksa. b. Sebaliknya kepada anak juga perlu ditanamkan pengertian bahwa perbuatan baik dan terpuji sesuai norma agama membuahkan pahala dan akan mendapatkan imbalan dari Tuhannya. c. Berikan contoh-contoh kegiatan yang dapat menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam kehidupan keagamaan yang praktis dan fungsional. Bimbingan budi pekerti pada anak gangguan emosi dan sosial dimaksudkan agar anak menjadi manusia yang berbudi luhur, sopan santun, andap asor, jujur, disiplin, dan memiliki rasa setia kawan. Bentuk bimbingan budi pekerti antara lain : a. Menanamkan sikap sopan santun b. Menganjurkan berpakaian rapi dan bersih c. Petunjuk menghindari perkelaian d. Menanamkan sikap patuh pada tata tertib keluarga dan sekolah e. Memperbanyak mengkaitkan materi pelajaran dengan nilai keagamaan f. Bimbingan waktu luang 2. Membina konsep diri dan pengenalan diri Anak tunalaras hidup dalam lingkungan sosial, ia berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya. Konsep dan pemahaman diri sangat diwarnai oleh hasil dari komunikasi sosial, sehingga pada diri anak dapat timbul penilaian atas dirinya, baik penilaian diri sebagai subyek maupun dirinya sebagai obyek. Untuk dapat mendudukkan diri sebagai subyek dan sebagai obyek biasanya bertolak dari persepsi diri terhadap kondisi fisik diri, kondisi psikis diri, dan kondisi sosial diri. Konsep diri positif biasanya dilandasi oleh : a. Pada diri anak telah mengalami nilai dan prinsip tertentu b. Dapat menyesali tindakan sendiri yang ternyata salah (dapat merugikan diri dan orang lain) dan bersedia memperbaikinya c. Tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu dengan kecemasan d. Memiliki keyakinan pad kemampuan diri untuk mengatasi persoalan (kegagalan, kelainan) sambil bertawakkal pada kepastian illahi e. Merasa setara dengan orang lain dan hanya nilai taqwa yang bisa membedakannya Sedang persepsi negatif biasanya dilandasi oleh adanya ketidaktahanan dalam menerima kritik atas dirinya, ejekan, sangat responsif terhadap pujian, merasa tidak diperhatikan oleh orang lain. Stuart & Sundeen (1991) mendeskripsikan konsep diri yang terdiri atas gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran, dan identitas diri. Seseorang yang memiliki kepribadian yang sehat biasanya dilandasi oleh gambaran diri yang positif dan akurat, ideal diri realistik, konsep diri positif, harga diri yang tinggi, adanya kepuasan penampilan peran serta adanya identitas diri yang jelas. 3. Membina emosi/perasaan dan sikap sosial Perasaan sosial akan mempengaruhi sikap sosial seseorang. Perasaan sosial yang altrimistis, egoistis, maupun individualis sama-sama tidak baik pengaruhnya terhadap pembentukan sikap sosial. Adanya sikap sosial yang antipati dan antipati juga tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian seseorang. Anak-anak tunalaras perlu dibina perasaan sosial dan sikap sosial yang positif. Paling tidak ada 2 aspek yang perlu ditanamkan kepada mereka yaitu : a. Kemampuan mengadakan relasi sosial, seperti : • Kemampuan bergaul • Bekerjasama dengan orang lain • Dimilikinya peran sosial yang sesuai dan jelas • Kemampuan mengadakan penyesuaian sosial b. Kemampuan mengadakan integrasi sosial Hasil akhir dari pembinaan perasaan sosial dan sikap sosial adalah anak dapat bergaul dan bekerjasama dengan orang lain dalam kelompok, yahu akan perannya dan dapat menyesuaikan diri dengan peran tersebut, dapat memahami tugas dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, dapat memahami batas-batas dari perilakunya, dapat menyesuaikan dengan lingkungan sosial, etika pergaulan, agama dan tidak memisahkan diri, tidak rendah diri dan tidak berlebihan serta mampu bergaul secara wajar dengan lingkungannya. 4. Membina kehendak Kehendak adalah dorongan/kekuatan dari dalam untuk berbuat guna mancapai sesuatu yang dikehendaki daan menghindrai sesuatu yang tidak dikehendaki. Kemauan adalah kehendak yang berhubungan dengan kerokhanian. a. Membina kebiasaan Kebiasaan yang sudah berlangsung lama dapat mewarnai kepribadian seseorang. Namun, anak tunalaras perlu dilatih segala aktivitas yang positif dan konstruktif agar apabila anak sanggup mengerjakannya berulang-ulang dapat membentuk kepribadian yang baik. Misalnya kebiasaan hidup tertib, aktif beraktivitas, hidup bersih, hidup sehat, rajin belajar. b. Membina nafsu Nafsu merupakan dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Nafsu ada beberapa macam yaitu nafsu amarah (penggerak), nafsu musawwilah (penipu diri), nafsu lawwamah (penimbang), nafsu muthmainnah (ketenangan/kesadaran). Dengan memahami nilai dan norma agama, maka nafsu yang cenderung mendorong orang berbuat negatif dan jahat dapat dicegah dan melahirkan nafsu muthmainnah. c. Membina kecenderungan/kegemaran/hobby Kecenderungan/kegemaran/hobby adalah suatu dorongan yang datangnya relatif selalu timbul. Cara membina kecenderungan/kegemaran.hobby antara lain dengan cara mengarahkan pada aktivitas yang positif dan tidak bertentangan dengan nilai dan norma di masyarakat. d. Membina kemauan Kemauan merupakan tenaga jiwa yang memberi ketetapan untuk menepati atau melaksanakan keputusan bathin. Membina kemauan anak tunalaras adalah melalui menyalurkan kemauan itu ke kegiatan yang positif, berikan hadiah dan hukuman yang sesuai, biasakan berbuat baik guna membentuk kata hatinya. Kemauan pada hakekatnya dapat dididik, oleh karena itu ada seloka sebagai berikut : • Keputusan bathin akan dapat disepakati, kalau kemauan kuat • Kemauan dapat kuat, kalau motif kuat • Motif dapat kuat kalau berdasar keyakinan. F. Program yang diberikan kepada tunalaras Ada dua macm prigram yang diberikan pihak sekolah kepada anak berkubutuhan khusus ini. Yaitu: 1. Sistem pengajaran a. Sistem pembelajaran penyuluhan yang diberikan oleh staf pengajar (Remedial Teaching). Pada sistem ini guru dianggap mampu embuat suasana kelas dengan baik, mengobati dan lebih memperhatikan murid. b. Sistem pembelajaran Klasikal, dimana staf pengajar berperan penting dalam menyampaikan informasi kepada muridnya. Staff pengajar atau gurubiasanya dianggap mampu dalam mengelola kelas dan proses pemelajaran. 2. program Bimbinganpenyuluhan a. program bimbinganpenyuluhansuasanahidup beragama di asrama b. program keterampilan c. program belajar di sekolah regular d. program bimbingankesenian e. programke orang tua f. program kemasyarakat g. program bimbingankepramukaan BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Anak tuna laras adalah anak atau remaja dengan karakteristik, mengalami gangguan atau hambatan emosi dan berkelainan tingkah laku sehingga dia tidak dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. B. Saran Anak yang mengalami tuna laras harus endapatkan perhatian yang serius baik dari lingkungan orang tua, keluarga atau dari lingkungan sekitar. Sehingga dengan demikian mereka tidak akan terasa diasingkan oleh masyarakat sekitar dan bakat mereka akan muncul secara perlahan-lahan dengan sendirinya. DAFTAR PUSTAKA Drs.Sunaryo,Ilham,M.Pd,Drs.Surtikanti,M.Pd.2011.Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus (Inklusif).Universitas Muhammadiyah Surakarta.Surakarta http://nadiadevina-plbuns2012.blogspot.com/2012/10/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html http://anandapriadmajha.blogspot.com/2013/05/pengertian-anak-tuna-laras.html http://12101nas.blogspot.com/2013/05/pendidikan-anak-berkebutuhan-khusus-slb_23.html file:///H:/abk%20tuna%20laras/tuna-laras-anak-berkebutuhan-khusus.html
UNGGAH-UNGGUH BASA JAWI A. Pangertosan Unggah-ungguh ugi asring kasebat undha usuk, tingkat tutur, tingkat ujaran, utawi speech level.. Unggah-ungguhing basa Jawa yaiku trap-trapane basa Jawa kang tujuwane kanggo ngurmati utawa ngajeni wong liya. Undha-usuk basa sekawan jinis dipunbangun saking tigang perangan inggih menika : tataran tembung (kata), tataran rimbag, (frasa),ukara (carita, pitakon, prentah) B. Jinising unggah-ungguhing Basa Basa jawi menika adhedhasar wujudipun basa utawi tembung (leksikon) bakunipun wonten tiga, inggih menika basa: ngoko, madya, lan krama utawi unggah-ungguh basa menika makna lan paedhahipun mujudaken sopan santun ing bab basa (linguistic etiquette), ingkang saged kaperang dados tiga, inggih menika: low honorifics, middle honorifics, lan high honorifics. Undha-usuke Basa Jawa miturut unggah-ungguhe kena kaperang dadi 5, yaiku : a. BASA MADYA Basa Madya iku basa ing antarane basa ngoko lan krama. Wujude Basa Madya yaiku tembung Madya kaworan ngoko utawa krama. 1. Madya Ngoko. Ciri-cirine Basa Madya Ngoko antarane : o Aku, dadi kula o Kowé, diowahi dadi dika o Ater-ater tak- diowahi dadi kula o Ater-ater ko-diowahi dadi dika o Ater-ater di- ora owah Tuladha : • Dika niku klebu beja, olehe panen pari mboten enten sing gabug, samang napake ta? 2. Madyantara. Ciri-cirine Basa Madyantara : o Aku, diowahi dadi kula o Kowé, diowahi dadi sampéyan, samang o Ater-ater tak-, diowahi dadi kula o Ater-ater ko-, diowahi dadi samang, mang Tuladha : • A migunakaké Basa Madya Ngoko, B migunakaké Basa Madya Krama. A : “É, Yu nggéndhong lurik, ndika mandheg sedhéla”. B : “Napa, ajeng tumbas?” 3. Madya Krama. Ciri-ciriné antara liya: o Aku, diowahi dadi kula o Kowé, diowahi dadi sampéyan utawa samang o Ater-ater tak-, diowahi dadi kula o Ater-ater ko-, diowahi dadi samang, mang o Ater-ater di-, tetep ora owah. Tuladha : o Mas, tinimbang sampeyan ngresula ngoten niku, mbok luwung ngenggar-enggar penggalih lan nyenyuwun teng Pangeran pinaringan gesang mulya, tentrem boten enten sambikala. b. BASA NGOKO Basa Jawa Ngoko yaiku perangan Basa Jawa kanggo guneman marang wong sapadha-padha. Basa Ngoko isih kaperang dadi 2, yaiku : 1. Ngoko Lugu,yaiku minangka tataran basa kang paling asor ing undha usuk Basa Jawa. Wujud tembunge ngoko, ora ana tembung krama utawa krama inggil tumrap wong sing diajak guneman. Gunane kanggo guneman antarane : o Wong tuwa marang bocah enom o Wong kang sadrajad utawa wis raket sesrawungane o Wong apangkat dhuwur marang pegawene o Bocah cilik karo kancane 2.Ngoko Andhap, yaiku basa ngoko kang alus sarta luwih ngajeni marang wong kang diajak guneman. Wujude arupa basa ngoko kacampur tembung krama inggil tumrap wong kang diajak guneman. Yen dirasa kurang ngajeni sok dicampur tembung krama sawetara. Panganggone basa ngoko andhap iku kanggo guneman antarane : o Sedulur tuwa marang sedulur enom kang luwih dhuwur drajade o Bojone priyayi marang sing lanang Basa ngoko andhap bisa diperang dadi : a. Antya Basa (wujude tembung ngoko lan krama inggil). Ciri-cirine : o Aku, tetep ora owah o Kowe, kanggo pawongan kang diajeni diowahi dadi panjenengan, ki raka,kangmas o Ater-ater dak-, ko-, di- lan panambang -ku, -mu, -e, -ake ora owah Tuladha : o Mas, aku nyuwun ngampil kagungane buku sewengi wae. b. Basa Antya (wujude tembung ngoko, krama inggil lan krama). Ciri-cirine : o Aku, tetep ora owah o Kowe, kanggo pawongan kang diajeni diowahi dadi panjenengan, ki raka,kangmas o Ater-ater dak-, ko-, di- tetep ora owah Tuladha : o Mas, aku ora bisa nyaosi apa-apa marang panjenengan, kejaba mung bisandherek muji rahayu, muga-muga panjenengan saged remen, lan saged ngangsu kawruh sing migunani tumrap nusa lan bangsa. c. BASA KRAMA 1. Basa Krama Lugu • Wujude: Tembunge madya (ater-ater lan panambange karma) • Panganggone: a. Kanggo marang kanca sing wis kulina, padha drajate lan ngajeni. b. Garwane priyayi marang sing kakung. c. Priyayi marang sedulure tuwa kang luwih cendhek drajade. Tuladha: - Sampeyan niku manawi kesah dhateng kantor napa taksih kiyat mbekta sepedha motor mas? 2. Basa Krama Alus • Wujude: Tetembungan krama (ater-ater lan panambang krama) lan krama inggil (tumrap wong sing diajak guneman). • Panganggone: a. Wong enom marang wong tuwa. b. Batur marang bendarane. c. Murid marang gurune. Tuladha: - Kula badhe matur dhateng ibu, bilih manawi saestu sowan dhateng eyang, kula badhe tumut. d. . BASA KEDHATON Basa Kedhaton yaiku basa kang kanggone mung ana kedhaton. Kaanggo tumrap para sentana lan abdining ratu ing wektu seba ing ngarsaning ratu. Tuladha : 1. Punapi sira darbe kawasisan ingkang linuwih ? Ewone basa kedhaton liyane : nedha = mangan puniku = iku wonten = ana punapi = apa dhawak = dhewe Daftar Pustaka http://shoitara-uciha.blogspot.com/2012/02/unggah-ungguh-basa-jawa.html(di akses pada hari kamis,14 mei 2014. Pukul 18.45) http://bayuriyantoxiia2.blogspot.com/2012/11/unggah-ungguh-basa-jawa-unggah-ungguh.html( di akses pada hari kamis,14 mei 2014. Pukul 18.50) http://sdwijosusastro.wordpress.com/gudhangan/3-unggah-ungguh-basa/(di akses pada hari jum’at,15 mei 2014. Pukul 20.10)