LAPORAN
APRESIASI
KARAWITAN BARU (KOMPOSER)
Oleh
Mahasiswa ISI Surakarta
Disusun guna melengkapi tugas mata
kuliah PAS dan Karawitan
Dosen Pengampu : Waluyo Sastro
Sukarno

Di Susun Oleh :
Catur Setyo Hutomo (A510120189) / IV E
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Zaman yang semakin modern seperti saat ini,
banyak budaya asli Indonesia yang hampir punah. Hal tersebut disebabkan oleh
kurangnya kesadaran warga Indonesia sendiri khususnya para generasi muda yang
melupakan budaya sendiri. Akan tetapi mereka lebih bangga menggunakan budaya
Asing. Kesadaraan mereka dalam mencintai
dan melestarikan budaya tersebut masih kurang. Disisi lain, kemajuan
tekhnologi, globalisasi dan westernisasi juga turut mempengaruhi perkembangan
budaya di Indonesia.
Agar budaya Indonesia tetap lestari maka diperlukan
adanya kerjasama dalam segala bidang. Misalnya pada progdi PGSD Universitas Muhammadiyah
Surakarta di adakan kunjungan ke ISI Surakarta untuk melihat penampilan
mahasiswa yang sedang melaksanakan ujian mata kuliah Pendidikan Apresiasi Sastra
dan Karawitan. Hal tersebut dilakukan agar mahasiswa PGSD dapat memahami lebih
dalam budayanya sendiri.
Sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Apresiasi Sastra dan
Karawitan tersebut, kami diminta untuk mengamati penampilan mahasiswa ISI
Surakarta tentang karawitan tradisi dan juga karawitan baru (komposer).
Dilaksanakan pada tanggal 11 dan 16
April 2014, bertempat di ISI Surakarta. Acara dimulai pukul 07.30 sampai selesai.
BAB II
PEMBAHASAN
Karawitan
Baru (Komposer)
Perangkat musik gamelan lengkap yang kita ketahui sekarang pada
mulanya hanya diawali dengan satu alat bunyi saja yaitu Gong. Kemudian pada
perkembangannya, ada penambahan sejenis
gong kecil yang disebut kempul namun jumlahnya masih terbatas lalu seiring
dengan kebutuhan musikalitas dari jaman ke jaman yang berkembang, barulah ada
penambahan alat-alat lainnya. Seni mengolah bunyi benda atau alat
bunyi-bunyian (instrumen) tradisional gamelan disebut Seni Karawitan.
Asal kata Karawitan itu sendiri berasal dari bahasa
sansekerta, yakni rawit, yang mempunyai arti keharmonisan, elegan dan
kehalusan. Namun menurut pendapat yang lain, karawitan berasal dari kata pangrawit
yang berarti orang atau subjek yang memiliki perasaan harmonis dan halus.
Adapula yang berpendapat bahwa karawitan
itu berasal dari kata ngerawit yang dalam bahasa Jawa artinya sangat
rumit. Jadi memainkan karawitan itu tidak hanya sekedar menghasilkan
bunyi-bunyian tapi memang harus memaknainya secara mendalam melalui gendhing
(lagu-lagu) yang dibawakan dalam seni karawitan karena gendhing-gendhing
tersebut berpengaruh pada sikap kehidupan manusia, misalnya ada nama gendhing
yang merujuk pada keselamatan dan permintaan. Semua gendhing yg
diciptakan itu juga berkaitan dengan segala kehidupan yang ada di dunia ini. Berikut sajian karawitan baru yang ditampilkan
oleh mahasiswa ISI Surakarta.
Sajian 1
“Kluthekan” oleh : Arna Saputra
Pada sajian Kluthekan yang di tampilkan oleh Arna
Saputra yaitu suara yang dihasilkan berasal dari perabot rumah tangga seperti
mengisi air dalam gelas, gelas yang
disenggol-senggolkan, botol kaca yang ditiup dan sebagainya sehingga
menghasilkan suara yang besar dan kecil. Dalam cerita tersebut apabila saat
suara musik besar nyanyian terdengar keras sedangkan saat suara musik kecil
nyanyian terdengar pelan. Ada 10 orang pemain yang terdiri dari 4orang pengisi,
2 orang perempuan berperan sebagai penjual, dan 4 orang laki-laki memainkan
botol kaca.
Dalam sajian tersebut
disertakan drama dan lagu.
Sajian 2
“Trenyuh” oleh : Jasno
Bunyi yang dihasilkan berasal dari bel, senar
yang ditarik, suara dari bambu yang di isi dengan benda apabila dibolak-balik menghasilkan. Dalam sajian
Trenyuh pemain musik berjumlah 7 orang dan alat musik yang divariasi antara
lain : bonang, kempyang, rebab dan gitar yang alat musik sejenis kajon. Disajikan berupa
lagu dan suara dari alat musik.
Sajian 3
“Rondho” oleh : Kukuh
Alat musik
yang disajikan dari alat musik kenyakan tradisional yaitu : seruling, kendhang,
bonang, dan kempyak. Tempo yang digunakan dari cepat, merendah kemudian cepat
lagi. Sajian yang ditampilkan berupa lagu dan alat musik.
Sajian 4
“Ngedhablu” oleh : Suryo
Ngedhablu yang artinya berbicara yang tidak ada janjinya
atau ingkar janji. Terdiri dari alat musik tradisional meliputi : bonang, gong,
balungan, dan seruling. Tempo lambat sedang cepat dan ada pengulangan musik.
Sajian 5
“Kasmaran” oleh : Toni
Alat musik yang digunakan berupa alat musik
gabungan tradisional kendhang, gong kecil, bonang, kempyakdengan alat musik
modern biola dan gitar. Tempo yang
dihasilkan lambat, sedang, dan cepat. Yang disajikan berupa lagu dan musik,
terjadi pengulangan musik juga. Pada saat penutup, musik mulai mengecil.
Sajian 6
“Lewat Belakang” oleh : Udin
Jenis musik berupa modern musikal. Pembukaan menggunakan
pencahayaan korek api yang dinyalakan kemudian dimatikan secara cepat dan
bergantian. Sumber bunyi yang dihasilkan berasal dari tong, wajan, gerindra
yang juga mengeluarkan cahaya. Alat musik tradisional berupa rebab, gong,
balungan, kecapi, dan bonang. Tempo lambat cepat lambat cepat.
PENDAPAT TENTANG MAHASISWA YANG DI UJI
Menurut saya komposisi musik yang ditampilkan sudah sesuai dengan tema yang di pilihh si penyaji. Namun cuma satu kekurangan yang bisa saya ungkapkan.
Penyaji kurang menonjol saat berkolaborasi
dengan pemain yang mendukungnya. Namun secara keseluruhan saya
tertarik dengan komposisi yang disajikan oleh mahasiswa ISI Surakarta.
BAB III
PENUTUP
Dengan
adanya tugas apresiasi tersebut, mahasiswa lebih mudah memahami materi
pembelajaran Karawitan yang telah disampaikan sebelumnya. Kemunculan karawitan
baru dapat dijadikan solusi agar para generasi muda lebih tertarik untuk
mempelajari budaya jawa tersebut. Hal ini disebabkan karena karya karawitan
baru lebih banyak variasinya sehingga tidak membosankan. Perpaduan antara
instrumen gamelan dengan alat musik tradisional serta peralatan rumah tangga
membuat suara yang dihasilkan lebih beraneka ragam bahkan bisa dibilang unik
sehingga lebih menarik dari pada hanya instrumen gamelan saja mungkin akan
menimbulkan kesan monoton. Adanya puisi dan drama yang diikutsertakan
memudahkan dalam mengetahui pesan yang akan disampaikan. Bangsa Indonesia yang
kaya akan budaya harus pandai-pandai dalam melestarikannya. Jika bangsa
indonesia bangga akan budaya yang dimiliki maka budaya tersebut tidak akan
mudah di klaim oleh negara lain.
komposisi musik yang ditampilkan sudah sesuai dengan tema yang di pilihh si penyaji. Namun cuma satu kekurangan yang bisa saya ungkapkan.
Penyaji kurang menonjol saat berkolaborasi
dengan pemain yang mendukungnya. Namun secara keseluruhan saya
tertarik dengan komposisi yang disajikan oleh mahasiswa ISI Surakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar