Selasa, 13 Mei 2014

laporan karawitan

LAPORAN
APRESIASI KARAWITAN BARU (KOMPOSER)
Oleh Mahasiswa ISI Surakarta

Disusun guna melengkapi tugas mata kuliah PAS dan Karawitan
Dosen Pengampu : Waluyo Sastro Sukarno






Di Susun Oleh :
     Catur Setyo Hutomo (A510120189) / IV E



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014




BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
           Zaman yang semakin modern seperti saat ini, banyak budaya asli Indonesia yang hampir punah. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya kesadaran warga Indonesia sendiri khususnya para generasi muda yang melupakan budaya sendiri. Akan tetapi mereka lebih bangga menggunakan budaya Asing.  Kesadaraan mereka dalam mencintai dan melestarikan budaya tersebut masih kurang. Disisi lain, kemajuan tekhnologi, globalisasi dan westernisasi juga turut mempengaruhi perkembangan budaya di Indonesia.
            Agar budaya Indonesia tetap lestari maka diperlukan adanya kerjasama dalam segala bidang. Misalnya pada progdi PGSD Universitas Muhammadiyah Surakarta di adakan kunjungan ke ISI Surakarta untuk melihat penampilan mahasiswa yang sedang melaksanakan ujian mata kuliah Pendidikan Apresiasi Sastra dan Karawitan. Hal tersebut dilakukan agar mahasiswa PGSD dapat memahami lebih dalam  budayanya sendiri.
            Sebagai tugas mata kuliah Pendidikan Apresiasi Sastra dan Karawitan tersebut, kami diminta untuk mengamati penampilan mahasiswa ISI Surakarta tentang karawitan tradisi dan juga karawitan baru (komposer). Dilaksanakan  pada tanggal 11 dan 16 April 2014, bertempat di ISI Surakarta. Acara dimulai pukul 07.30 sampai  selesai.














BAB II
PEMBAHASAN

Karawitan Baru (Komposer)

        Perangkat musik gamelan lengkap yang kita ketahui sekarang pada mulanya hanya diawali dengan satu alat bunyi saja yaitu Gong. Kemudian pada perkembangannya, ada penambahan sejenis gong kecil yang disebut kempul namun jumlahnya masih terbatas lalu seiring dengan kebutuhan musikalitas dari jaman ke jaman yang berkembang, barulah ada penambahan alat-alat lainnya. Seni mengolah bunyi benda atau alat bunyi-bunyian (instrumen) tradisional gamelan disebut Seni Karawitan.
Asal kata Karawitan itu sendiri berasal dari bahasa sansekerta, yakni rawit, yang mempunyai arti keharmonisan, elegan dan kehalusan. Namun menurut pendapat yang lain, karawitan berasal dari kata pangrawit yang berarti orang atau subjek yang memiliki perasaan harmonis dan halus. Adapula yang berpendapat bahwa karawitan itu berasal dari kata ngerawit yang dalam bahasa Jawa artinya sangat rumit. Jadi memainkan karawitan itu tidak hanya sekedar menghasilkan bunyi-bunyian tapi memang harus memaknainya secara mendalam melalui gendhing (lagu-lagu) yang dibawakan dalam seni karawitan karena gendhing-gendhing tersebut berpengaruh pada sikap kehidupan manusia, misalnya ada nama gendhing yang merujuk pada keselamatan dan permintaan. Semua gendhing yg diciptakan itu juga berkaitan dengan segala kehidupan yang ada di dunia ini. Berikut sajian karawitan baru yang ditampilkan oleh mahasiswa ISI Surakarta.   

Sajian 1 “Kluthekan” oleh : Arna Saputra
            Pada sajian Kluthekan yang di tampilkan oleh Arna Saputra yaitu suara yang dihasilkan berasal dari perabot rumah tangga seperti mengisi air dalam gelas,  gelas yang disenggol-senggolkan, botol kaca yang ditiup dan sebagainya sehingga menghasilkan suara yang besar dan kecil. Dalam cerita tersebut apabila saat suara musik besar nyanyian terdengar keras sedangkan saat suara musik kecil nyanyian terdengar pelan. Ada 10 orang pemain yang terdiri dari 4orang pengisi, 2 orang perempuan berperan sebagai penjual, dan 4 orang laki-laki memainkan botol kaca.
Dalam sajian tersebut disertakan drama dan lagu.


Sajian 2 “Trenyuh” oleh : Jasno
            Bunyi yang dihasilkan berasal dari bel, senar yang ditarik, suara dari bambu yang di isi dengan benda apabila  dibolak-balik menghasilkan. Dalam sajian Trenyuh pemain musik berjumlah 7 orang dan alat musik yang divariasi antara lain : bonang, kempyang, rebab dan gitar yang  alat musik sejenis kajon. Disajikan berupa lagu dan suara dari alat musik.   
Sajian 3 “Rondho” oleh : Kukuh
Alat musik yang disajikan dari alat musik kenyakan tradisional yaitu : seruling, kendhang, bonang, dan kempyak. Tempo yang digunakan dari cepat, merendah kemudian cepat lagi. Sajian yang ditampilkan berupa lagu dan alat musik.
Sajian 4 “Ngedhablu” oleh : Suryo
            Ngedhablu yang artinya berbicara yang tidak ada janjinya atau ingkar janji. Terdiri dari alat musik tradisional meliputi : bonang, gong, balungan, dan seruling. Tempo lambat sedang cepat dan  ada pengulangan musik.
Sajian 5 “Kasmaran” oleh : Toni
            Alat musik yang digunakan berupa alat musik gabungan tradisional kendhang, gong kecil, bonang, kempyakdengan alat musik modern biola dan  gitar. Tempo yang dihasilkan lambat, sedang, dan cepat. Yang disajikan berupa lagu dan musik, terjadi pengulangan musik juga. Pada saat penutup, musik mulai mengecil.
Sajian 6 “Lewat Belakang” oleh : Udin
            Jenis musik berupa modern musikal. Pembukaan menggunakan pencahayaan korek api yang dinyalakan kemudian dimatikan secara cepat dan bergantian. Sumber bunyi yang dihasilkan berasal dari tong, wajan, gerindra yang juga mengeluarkan cahaya. Alat musik tradisional berupa rebab, gong, balungan, kecapi, dan bonang. Tempo lambat cepat lambat cepat.

PENDAPAT TENTANG MAHASISWA YANG DI UJI
Menurut saya komposisi musik yang ditampilkan sudah sesuai dengan tema yang di pilihh si penyaji. Namun cuma satu kekurangan yang bisa saya ungkapkan. Penyaji kurang menonjol saat berkolaborasi dengan pemain yang mendukungnya. Namun secara keseluruhan saya tertarik dengan komposisi yang disajikan oleh mahasiswa ISI Surakarta.




BAB III
PENUTUP

Dengan adanya tugas apresiasi tersebut, mahasiswa lebih mudah memahami materi pembelajaran Karawitan yang telah disampaikan sebelumnya. Kemunculan karawitan baru dapat dijadikan solusi agar para generasi muda lebih tertarik untuk mempelajari budaya jawa tersebut. Hal ini disebabkan karena karya karawitan baru lebih banyak variasinya sehingga tidak membosankan. Perpaduan antara instrumen gamelan dengan alat musik tradisional serta peralatan rumah tangga membuat suara yang dihasilkan lebih beraneka ragam bahkan bisa dibilang unik sehingga lebih menarik dari pada hanya instrumen gamelan saja mungkin akan menimbulkan kesan monoton. Adanya puisi dan drama yang diikutsertakan memudahkan dalam mengetahui pesan yang akan disampaikan. Bangsa Indonesia yang kaya akan budaya harus pandai-pandai dalam melestarikannya. Jika bangsa indonesia bangga akan budaya yang dimiliki maka budaya tersebut tidak akan mudah di klaim oleh negara lain. 
komposisi musik yang ditampilkan sudah sesuai dengan tema yang di pilihh si penyaji. Namun cuma satu kekurangan yang bisa saya ungkapkan. Penyaji kurang menonjol saat berkolaborasi dengan pemain yang mendukungnya. Namun secara keseluruhan saya tertarik dengan komposisi yang disajikan oleh mahasiswa ISI Surakarta.

























Senin, 12 Mei 2014

diary

perasaan saya setelah maju simulasi pembelajaran geometri dan pengukuran adalah sangat senang sekali karena sudah maju. sebelum maju saya sangat galau karena kepikiran terus .